Pertamina Menjadikan Batam sebagai Pusat Ekspor”Base Oil”

PT Pertamina Lubricants, anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang mengelola kegiatan produksi dan pengelolahan pelumas, grease, specialties product dan base oil menjadikan Port Kabil Batam sebagai Hub Lunch atau pusat Ekspor terbesar Base Oil di Indonesia, bahkan Internasional. Hal ini dilakukan seiring upaya pertamina dalam mewujudkan visinya untuk menjadi perusahaan pelumas kelas dunia di bidang ekspor Base Oil (LBO) Brightstock 150 (BS) keseluruh Dunia. “Dalam ekspor perdana Lube Base Oil yang dilakukan melalui TBBM Kabil (Kawasan Bilateral) Batam dengan jumlahnya lebih dari 6,000 MT LBO BS 150 kepada PT Petro China International (H.K) Co., Ltd, menandakan keseriusan pertamina untuk menjadi perusahaan pelumas kelas dunia,” kata Afandi, Dirut Pertamina Lubricants. Afandi mengatakan pihaknya siap mengoptimalkan kemampuannya untuk bersaing di pasar internasional khususnya di Asia. Pengiriman ekspor LBO BS150 sebelumnya di lakukan dari Refinery (RU) IV Cilacap sebelum ditentukan di TBBM Kabil, Batam. “Dikarenakan Port Kabil Batam memiliki kapasitas penyimpanan stok yang lebih besar, port restriction yang lebih customer-friendly, yang mampu melakukan ekspor dengan bulk atau vessel dan mampu mengakomodir spek Kapal yang lebih besar seperti Kapal jenis Ocean Going dan Mother Vessel. Makanya Batam dijadikan pusat ekspor terbesar di dunia,” ungkap Afandi. Banyak keuntungan dari aktivitas trading LBO PT Pertamina Lubricants di Batam, seperti menambahkan volume perdagangan ekspor melalui Batam, meningkatkan traffic kapal tanker di perairan Batam dan memaksimalkan infrastruktur di Batam serta dapat memobilisasi Anak Perusahaan Pertamina Lainnya dan bisnis-bisnis lokal di Batam. Pertamina Lubricants berkomitmen dan berupaya untuk merealisasikan visi bisnisnya di semua lini, termasuk meningkatkan kapasitas perdagangan LBO di pasar regional dan internasional. Ke depannya, Pertamina Lubricants akan terus memaksimalkan penjualan dan ekspor melalui TBBM kabil ini, diantaranya penjualan melalui flexy bag, partai kecil (retail), dan IBC hasil blending dan hasil trading, hal ini sesuai dengan strategi yang dimiliki oleh divisi overseas PT Pertamina Lubricats yaitu LBO Kabil 5.0. “Ekspor perdana ini menandakan komitmen kami dalam pengelolahan Lube Base Oil ke pasar internasional dengan skala dan volume yang lebih besar serta jarak yang lebih jauh namun dengan biaya yang menjadi lebih efisien sehingga bisa lebih kompetitif di pasar ekspor,” jelasnya. Lebih jauh Afandi mengatakan Kabil Batam secara geografis mendekatkan Pertamina dengan negara-negara tujuan eskpor, seperti di Asia Tenggara, China, Timur Tengah, Eropa dan Australia. “Kami akan terus melakukan penjajakan untuk melakukan ekspor dari TBBM Kabil Batam ke berbagai konsumen kami di berbagai region di dunia,” kata Afandi. Saat ini PT Pertamina Lubricants bisnisnya sudah menjangkau 17 negara di dunia, bahkan saat ini sudah memikliki satu anak perusahaan di Thailand dan selanjutnya juga bakal ada di Australia dan sejumlah negara lainnya.

Investor India Ingin Investasi 60 Juta Dollar AS di Bengkulu

Investor India menyatakan minat berinvestasi di Bengkulu, tepatnya di Pelabuhan Pulau Baii, Kota Bengkulu. Nilainya disebut 60 juta dollar AS. “Kalau Pemprov Bengkulu siap memberikan perizinan cepat maka maunya kami secepatnya segera melakukan peletakan batu pertama pembangunan pabrik minyak goreng di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” ujar Presiden Direktur PT Sudevam Grup Mr Lalit Kumar Ritital, di Bengkulu,Investasi tersebut rencananya dipakai untuk membangun pabrik minyak goreng, seperti disampaikan dalam pertemuan Kumar dengan Plt Gubernur Bengkulu, Rohidin Mersyah, Jumat. Sebelumnya, Rohidin terlebih dahulu memaparkan potensi KEK di Pelabuhan Pulau Baai. Menurut Kumar, potensi bahan baku minyak sawit mentah ( CPO) di Bengkulu sangat besar. Lahan KEK yang dikelola PT Pelindo Pulau Baai disebut cukup menjanjikan pula. Bersama dengan investasi itu, ungkap Kumar, perusahaannya juga berjanji mempekerjakan sekitar 400 tenaga kerja setempat di lahan garapan seluas sekitar 50 hektar. Potensi Pelabuhan Baii sebelumnya juga disinggung kepala Bank Indonesia Perwakilan Bengkulu, Endang Kurnia Saputra. Jika ditingkatkan kemampuannya, ujar dia, kawasan ini diperkirakan berkontribusi 0,63 persen bagi perekonomian Bengkulu.

Rupiah Menurun, Siap-siap Harga Makanan dan Minuman Naik

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terus melemah. Sejumlah sektor industri ikut terpukul pelemahan tersebut, salah satunya adalah industri makanan dan minuman. Maklum, bahan baku industri sektor ini masih mengandalkan impor. Tak ayal, ketika dollar AS menguat menyebabkan biaya produksi membengkak. Sedangkan harga jual produk menggunakan rupiah, karena lebih banyak menyasar pasar domestik. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia ( Gapmmi) Adhi S Lukman mengungkapkan, anggotanya akan mengevaluasi situasi fluktuasi nilai tukar rupiah usai Lebaran. Menurut dia, hingga saat ini stok bahan baku yang kebanyakan masih impor sudah disiapkan dari bulan Maret lalu. Baca juga: Darmin: Jangan Kurs Dollar AS Bergerak kemudian Disimpulkan Sudah Krisis “Tapi bila situasi ini terus berlanjut hingga tutup kuartal dua, maka bisa jadi di kuartal tiga kami akan menaikkan harga,” katanya, Rabu (23/5/2018). Berdasarkan catatan Gappmi, hingga saat ini industri makanan dan minuman memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor. Seperti bahan baku terigu, gula, susu, garam, dan produk perasa buah. “Bila situasi ini terus berlanjut bisa menyebabkan kenaikan harga antara 3 persen sampai 7 persen,” sebutnya. Efek penurunan nilai tukar rupiah berikutnya adalah terjadi penurunan omzet di sektor industri ini. Alhasil, Gapmmi sangat berharap pada pertumbuhan ekonomi tetap baik, sehingga tidak menggerus omzet. Adhi bilang, anggota Gapmmi tidak panik walaupun nilai tukar rupiah terus melemah. Ia menilai, langkah Bank Indonesia (BI) diharapkan bisa meredam fluktuasi tersebut. “Nilai tukar terhadap dollar AS melemah ini terjadi menyeluruh di semua negara, sehingga biasanya tidak akan berlangsung lama,” ungkap Adhi. Baca juga: Dollar AS Sentuh Rp 14.209, Rupiah Terendah Sejak Oktober 2015 Meski belum ada data riil soal kenaikan permintaan makanan dan minuman Gapmmi mengklaim, beberapa anggotanya sudah mengalami pertumbuhan penjualan ketimbang tahun lalu. Menjelang Lebaran ini diperkirakan permintaan akan tumbuh sebesar 20 persen, terutama untuk produk seperti biskuit dan sirup. Sedangkan investasi dalam negeri di sektor makanan dan minuman menurut dia masih ada kenaikan. Sementara untuk untuk Penanaman Modal Asing (PMA) masih melambat. “Untuk investasi kami melihat perlu ada kepastian regulasi yang jelas dari pemerintah,” ucap Adhi. Realisasi investasi Berdasarkan data yBadan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), investasi sektor industri manufaktur sepanjang kuartal I-2018 mencapai Rp 62,7 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari penanaman modal dalam negeri senilai Rp 21,4 triliun dan penanaman modal asing sebesar 3,1 miliar dollar AS. Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp 22,7 triliun. Kurniadi Sulistyomo, Sekretaris Perusahaan PT Sarimelati Kencana Tbk menjelaskan, pihaknya belum ada rencana menaikkan harga jual produk. Mengingat 80 persen bahan baku perusahaan outlet Pizza Hut itu masih berasal dari pasokan dalam negeri. “Kami paling hanya impor keju. Dan di Lebaran ini permintaan terus naik,” kata Kurniadi kepada Kontan, Kamis (24/5/2018). Beberapa saaat lalu emiten berkode saham PZZA baru saja melaksanakan penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO). Dalam aksi korporasi tersebut, PZZA menawarkan sekitar 604 juta saham. Jumlah tersebut setara 20 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor perusahaan. Dengan menetapkan harga IPO sebesar Rp 1.100 per saham, manajemen PZZA memperoleh dana sebesar Rp 664 miliar. “Kami akan menggunakan 65 persen dana itu untuk mengembangkan outlet,” ujar Kurniadi. Saat ini, PZZA sudah mengoperasikan sebanyak 397 gerai, yang tersebar di seluruh Indonesia. (Eldo Christoffel Rafael) Berita ini sudah tayang di Kontan.co.id dengan judul Siap-siap, harga makanan dan minuman naik